Minggu, 05 Oktober 2014

anak yg tidak patut di contoh

Seorang remaja menelepon orang tuanya dan berkata “Bajingan kamu, Mama”. Anak ini marah kepada orang tuanya karena ia hanya diberi uang, telepon genggam, credit card, dan fasilitas hiburan yang berlimpah di rumahnya, tetapi tanpa ada kasih sayang dan perhatian. Tak ada yang bisa mendengarkan cerita-ceritanya ketika ia sedang bergembira atau saat dirundung kesedihan luar biasa. Satu-satunya yang mau mendengarkan adalah pembantu di rumah. Entah karena tulus atau karena takut.

Bagi anak ini, nasihat tentang surga di bawah telapak kaki ibu menjadi berita yang menyakitkan telinganya. Sebab, kasih sayang seorang ibu adalah imipian yang sangat sulit ia raih. Apalagi perhatian seorang bapak. Padahal ibunya tidak memiliki tanggungjawab khusus yang mengharuskannya banyak keluar rumah. Ibunya bukan pula seorang pejabat. Bukan pula da’iyah yang memberi pencerahan pada umat. Tetapi ia lebih sering di luar rumah daripada menemani anaknya belajar.

Sedangkan bapaknya, setali tiga uang. Waktunya lebih banyak di luar rumah bukan karena berjuang demi keluarga, apalagi agama. Tetapi hanya sibuk menumpuk rupiah. Karenanya tak ada yang bisa dibanggakan oleh anak dari ibu maupun bapaknya.

Ah, diam-diam saya jadi miris membayangkannya bila anak itu sudah dewasa. Ah, pertanda apa ini ?. Teringat saya pada sabda Nabi Muhammad saw bahwa jika manusia mulai mengerjakan lima belas perkara, maka mereka akan ditimpa musibah. Perkara itu antara lain adalah, jika harta rampasan dibagi secara bergiliran (satu kaum mendapatkan dan kaum yang lain tidak mendapatkannya), amanat dianggap sebagai harta rampasan, zakat dianggap sebagai main-main, jika lelaki patuh kepada istrinya, jika seseorang durhaka kepada ibunya, lebih suka berbuat baik kepada rekannya dan kasar terhadap ayahnya, jika ada suara-suara yang keras di dalam masjid, jika pemimpin kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka, orang yang paling mulia takut kepada kejahatannya, jika khamr diminum, sutera dikenakan kaum laki-laki, wanita-wanita penyanyi dan alat-alat musik diambil, jika yang akhir dari umat ini melaknat yang awal. Maka hendaklah pada saat itu mereka mewaspadai aroma paceklik, kekurangan bahan makanan atau perubahan rupa.”
Tampaknya ada yang perlu kita benahi. Tentang niat kita mendidik anak. Tentang tujuan kita menyekolahkan mereka. Tentang arah hidup kita sendiri. Juga tentang apa yang akan kita pertanggungjawabkan kelak di yaumil akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar